Spiga
Tampilkan postingan dengan label Tutorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tutorial. Tampilkan semua postingan

Protein Tanpa Bentuk yang Menjaga Fungsi Otak

Otak kita mengontrol seluruh aktivitas tubuh termasuk emosi, kecerdasan dan menyimpan memori. Untuk itu, penyakit yang menyerang sel otak atau neuron (neurodegenerative disease) seperti Alzheimer, Parkinson, Huntington dan Creutzfedlt-Jakob (CJD) berakibat fatal karena melumpuhkan fungsi kemanusiaan kita yang paling esensial itu.
Penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh protein-protein tak terbentuk yang secara alamiah ada dalam sel namun berubah menjadi patogen dengan menunjukkan bentuk atau strukturnya.

Pemahaman kita terhadap protein selama ini menyatakan bahwa protein selalu harus memiliki bentuk alias struktur agar dapat berfungsi. Protein adalah rantai asam amino dengan panjang minimal 50-an asam amino yang melalui proses pelipatan (folding) menemukan strukturnya yang unik. Keunikan yang dimaksud dari 350 kemungkinan struktur yang ada (3 arah sumbu x, y, z dari 50 asam amino penyusun protein dengan ukuran terkecil), hanya satu yang dipilih.
Proses pelipatan ini demikian kompleks dan menyimpan banyak misteri sehingga kemampuan untuk kita melakukan rekayasa terhadap protein masih terbatas. Tidak heran, salah satu super komputer tercepat di dunia bernama Blue Gene yang dibuat oleh IBM, khusus diperuntukkan dalam melakukan simulasi bagaimana protein melipat.
Untuk mengurai kompleksitas struktur protein, ilmuwan membagi struktur protein berdasarkan beberapa parameter. Menurut parameter hierarki dalam proses pelipatan, struktur protein dibagi menjadi struktur primer yaitu sekuen asam aminonya, struktur sekunder yaitu struktur lokal seperti alfa helix, beta sheet, turn, dan random, struktur tersier yaitu struktur keseluruhan satu rantai protein dan terakhir struktur kuartener yaitu struktur keseluruhan protein yang memiliki lebih dari satu rantai.
Pentingnya struktur dalam memahami fungsi protein yang sangat beragam mulai dari enzim, hormon, antibodi, reseptor dan sebagainya tampak dari berbagai usaha peneliti mengembangkan teknik untuk menganalisa dan melihat bentuk protein tersebut. Mulai dari teknik kristalografi sinar-X yang dikembangkan oleh Max Perutz dan Jon Kendrew (menerima nobel Kimia tahun 1962), teknik mikroskop elektron oleh Aaron Klug (Nobel Kimia 1982), teknik spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) oleh Kurt Wuthrich, dan teknik spektrometri massa oleh Koichi Tanaka serta John Fenn (bertiga bersama-sama menerima Nobel Kimia 2002).
Usaha menentukan struktur protein secara eksprimen dirasa semakin penting sehingga pusat data koordinat struktur protein yaitu Protein Data Bank menerima penambahan data yang terus bertambah secara eksponensial dan didirikannya konsorsium internasional penentuan struktur protein. Tidak mau kalah, para ilmuwan non-eksperimen basah yang mengandalkan kekuatan komputer melakukan prediksi dan simulasi struktur protein yang dikompetisikan setiap tahun. Berbagai pusat data juga dibuat untuk mengklasifikasikan protein berdasar strukturnya seperti SCOP.
Di tengah ramainya perhatian terhadap pentingnya bentuk atau struktur dalam memahami fungsi protein itu, satu kejutan lahir dengan ditemukannya protein yang secara alamiah tidak memiliki struktur yang tetap alias tak berbentuk. Stanley Prusiner, penerima Nobel Kedokteran tahun 1997, menemukan bahwa protein bernama prion dalam kondisi normal tidak memiliki struktur yang jelas namun kemudian berubah menjadi abnormal yang menyebabkan penyakit (bersifat patogen) dengan membentuk struktur tertentu.
Prion ini menyebabkan penyakit CJD pada manusia dan sapi gila/BSE pada sapi atau domba. Dimulai dari kondisi normal tak berbentuk, sebagian dari rantai asam amino protein itu melipat biasanya jadi struktur sekunder beta-sheet, lalu mulai terjadi pengendapan/agregasi dalam bentuk serat. Pengendapan yang intensif dalam sel otak inilah yang akhirnya menyebabkan sel itu mati.
Mekanisme serupa telah ditemukan sebelumnya pada protein beta-amyloid yang menyebabkan penyakit Alzheimer. Dengan demikian, protein yang telah menjadi serat dan mengendap itu dinamakan amuloyd-like fibril (serat mirip amyloid). Setelah itu, penyakit kerusakan otak yang penting lainnya diketahui disebabkan oleh mekanisme yang diderita oleh petinju legendaries Muhammad Ali dan aktor film Back to the future, Michael J Fox serta protein Huntington pada penyakit Huntington. Kehadiran protein-protein itu masih belum diketahui dengan jelas seperti hasil eksperimen dengan tikus percobaan yang telah dihilangkan gen penyandi protein prionnya tanpa memberikan efek fisiologis.
Pengobatan
Sampai saat ini belum ada pengobatan yang mujarab untuk penyakit-penyakit ini sehingga penderitanya seperti harus pasrah menunggu maut sambil terus digerogoti kemampuan otaknya. Walau demikian, para peneliti mulai mengembangkan obat hasil bioteknologi, pertama menggunakan antibodi. Pada tahun 2003, Cashman dari Kanada dan Hawke dari Inggris secara terpisah telah berhasil memperoleh antibodi yang spesifik berikatan dengan protein prion abnormal. Menggunakan antibodi ini, interaksi antara protein normal dengan protein abnormal bisa dicegah sehingga perkembangan penyakit bisa dihambat sampai disembuhkan. Keberhasilan ini member inspirasi untuk mengobati penyakit kerusakan otak lainnya dengan cara yang sama.
Bard dan Liu, masing-masing mempublikasikan hasil penelitiannya di jurnal Proc. Natl. Acad. Sci. USA (2003) dan Biochemistry (2004) mengenai pengembangan antibodi yang mengenali protein beta-amyloid penyebab Alzheimer yang dapat mencegah pengendapan protein abnormal. Hasil penelitian ini telah dicoba pada eksperimen invitro (di luar sel terhadap protein saja) dan invivo (di dalam sel seperti kondisi sesungguhnya). Untuk penyakit Huntington, Heiser dan Leceft telah mempublikasikan hasil penelitian mereka mengenai pengembangan antibodi yang dapat menghambat agregasi protein Huntington. Heiser mendapatkan antibodi yang diberi nama 1C2 yang berikatan dengan sekuen polyQ dari protein Huntington. Sementara Heiser memperoleh antibodi C4 yang mengenali sekuen nomor 1-17 protein Huntington. Terakhir, protein alfa synuclein penyebab penyakit Parkinson telah coba dihalangi pengendapannya dengan antibodi oleh Emadi pada tahun 2004. Antibodi yang dikembangkan mengenali dua lokasi sekaligus dalam protein alfa synuclein, yaitu sekuen nomor 27-37 dan nomor 101-111.
Pembuatan antibodi tidak mudah dan memerlukan biaya tinggi sehingga produknya menjadi mahal. Hal ini mendorong dikembangkannya bentuk pengobatan kedua dengan bioteknologi. Prof. Koji Sode dari Tokyo University of Agriculture and Technology, menggunakan teknik rekayasa protein telah berhasil membuat protein alfa synuclein versi mutan yang memiliki sifat pengendapan dan pembentukan serat, jauh lebih kecil daripada aslinya. Ketika protein mutan ini dicampur dengan protein asli, pembentukan serat menurun dramatis sampai 10% dari kontrol tanpa pencampuran protein mutan yang mencapai 100%. Diperkirakan, interaksi antara protein mutan dan protein normal itu mencegah terjadinya pengendapan yang berlanjut pada pembentukan serat, sebagaimana mekanisme pencegahan oleh antibodi.

Sumber: Kompas



Readmore »»

Laboratorium

Laboratorium merupakan tempat dilakukannya riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah. Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya dilakukan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium komputer dan laboratorium bahasa.

Level Keselamatan Biologi
Level tingkatan keselamatan diperlukan untuk penanganan agen biologi. Centers for Disease Control and Preventation atau pusat pencegahan dan penanganan penyakit yang berpusat di Amerika Serikat menspesifikasikan empat level penanganan keselamatan biologi.
Contoh laboratorium dengan keselamatan biologi adalah USAMRIID (U.S. Army Research Institute for Infectious Diseases).
Level Keselamatan Biologi 1
Level ini diperuntukkan bagi agen-agen yang diketahui tidak menyebabkan penyakit pada manusia dewasa yang sehat dan bahaya potensial yang minimal bagi pekerja laboratorium dan lingkungan. Laboratorium tidak memerlukan lokasi terpisah dari lokasi umum dalam suatu bangunan. Contoh agen biologi kategori level keselamatan biologi 1 antara lain: Bacillus subtilis, hepatitis, E. coli dan virus cacar air.
Level Keselamatan Biologi 2
Level ini memiliki kesamaan dengan level keselamatan biologi 1. Perbedaannya terletak pada beberapa hal berikut:
1. Pekerja laboratorium memiliki pelatihan khusus dalam penanganan agen-agen patogenik dan berada di bawah arahan ilmuwan yang berkompeten di bidangnya.
2. Akses ke laboratorium dibatasi ketika pekerjaan tengah dilakukan terkait dengan aktivitas penelitian.
3. Penanganan khusus bagi barang-barang tajam.
4. Prosedur khusus bagi pekerjaan dengan gas atau tumpahan mengandung agen berinfeksi dilakukan di dalam wadah khusus.
Contoh agen biologi kategori level keselamatan biologi 2 antara lain: hepatitis B, hepatitis C, Flu, virus west nyle dan Salmonella.
Level Keselamatan Biologi 3
Ditujukan bagi fasilitas klinis, diagnostik, riset atau produksi yang berhubungan dengan agen-agen eksotik yang dapat mengakibatkan potensi terkena penyakit berbahaya. Pekerja laboratorium memiliki pelatihan khusus dalam penanganan agen-agen patogenik berbahaya dan diawasi oleh ilmuwan-ilmuwan berkompetensi yang berpengalaman dalam bekerja dengan agen-agen tersebut. Contoh agen biologi kategori level keselamatan biologi 3 adalah: anthrax, HIV, SARS, Tubercolosis, virus cacar, thypus dan avian influenza.
Semua prosedur menyangkut penanganan material berbahaya dilakukan dalam wadah tertutup oleh pekerja yang memakai peralatan dan baju pelindung khusus. Laboratorium memiliki fasilitas dan didesain khusus untuk hal tersebut antara lain pintu akses ganda director.
Level Keselamatan Biologi 4
Dibutuhkan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan agen-agen eksotik yang ekstrim berbahaya, dimana memiliki resiko tinggi penyebaran melalui udara. Staf laboratorium memiliki pelatihan khusus dalam menangani agen-agen berbahaya tersebut. Fasilitas laboratorium terisolasi dari tempat-tempat umum. Semua pekerjaan dalam fasilitas ini dilakukan dalam tempat tertutup khusus. Pekerjanya memakai pakaian pelindung khusus lengkap dengan tabung oksigen yang tersendiri. Contoh agen biologi kategori level keselamatan biologi 4 antara lain: Ebola, virus Hanta dan virus Lassa.

Beberapa laboratorium yang berkategori level keselamatan biologi 4 antara lain:
1. Amerika Serikat
• USAMRIID di Fort Dietrich, MD
• CDC di Atlanta, GA
• NNMC di Bethesda, MD
• Southwest Foundation for Biomedical Research di San Antonio, TX
• NIAID’s Rocky Mountain Laboratories di Hamilton, MT

2. Australia
The Australian Animal Health Laboratory di Geelong yang merupakan satu-satunya laboratorium di Australia yang memiiki level keselamatan biologi 4.
3. Jerman
Marburg dan Bernhard Nocht Institute, Hamburg
4. Kanada
National Microbiology Laboratory di Winnipeg
5. Perancis
Memiliki sebuah fasilitas laboratorium level 4 di Lyon
6. Swedia
Swedish Institute for Infectious Disease Control di Solna

Sumber: Wikipedia



Readmore »»

Enzim Restriksi

Penemuan molekul DNA yang mempunyai struktur berpilin seperti tali (double helix) oleh Watson dan Crick (1953) telah membuka jalan bagi kelahiran bioteknologi dalam bidang rekayasa genetika. Penemuan struktur DNA tersebut dapat dikatakan sebagai embrio bagi bayi teknologi rekayasa genetika. Setelah 20 tahun dalam kandungan, teknologi tersebut lahir ke dunia pada tahun 1973.
Kelahiran teknologi ini ditandai dengan keberhasilan manusia yang menciptakan teknik dasar yang mutlak diperlukan dalam bioteknologi. Beberapa teknik dasar yang mengantar kelahiran teknologi tersebut di antaranya teknik pemotongan, penggabungan dan pembelahan molekul DNA. Dalam tulisan kali ini, akan dibahas mengenai perangkat yang digunakan dalam memotong DNA menggunakan enzim restriksi.

Pada tahun 1960an, telah ditemukan sekelompok enzim tertentu yang dapat mendegradasi DNA dan menghambat (restrict) proses terjadinya infeksi dari bakteriofage penginfeksi bakteri. Kelompok enzim ini, yang kemudian dikenal sebagai enzim restriksi (Restriction Enzyme), terbukti berperan sangat penting dalam penerapan teknologi DNA rekombinan di abad modern ini untuk memanipulasi DNA. Enzim restriksi adalah enzim yang memotong dsDNA (baca: double stranded DNA) pada situs spesifik. Situs yang dipotong oleh enzim restriksi disebut situs pengenalan enzim (Recognition sequences). Enzim yang berbeda dapat mengenali situs yang berbeda. Enzim yang dihasilkan oleh berbagai jenis bakteri dan secara alami berfungsi untuk melindungi bakteri dari inkorporasi DNA asing.
Penamaan enzim restriksi biasanya berdasarkan inangnya, misalnya EcoRI berasal dari bakteri E. coli. Dalam biologi molekuler, enzim restriksi biasanya digunakan untuk analisis kekerabatan, rekayasa genetika dan identifikasi suatu molekul DNA.
Enzim restriksi mampu memotong DNA pada situs pengenal dengan sekuensi DNA yang sangat spesifik (Recognition site). Dengan demikian enzim ini mampu memproses DNA menjadi potongan-potongan yang lebih pendek asal DNA tersebut memiliki situs pengenal untuk enzim restrisi tertentu. Oleh enzim restriksi ini, DNA genomik tanaman yang relatif kompleks organisasi DNA-nya dapat dipotong-dipotong menjadi populasi potongan DNA dengan berbagai ukuran. Sampai dengan tahun 1988an, telah diketahui hampir 475 macam enzim restriksi yang berasal dari berbagai organisme.
Situs pengenalan enzim restriksi kebanyakan terdiri dari empat basa atau enam basa, tetapi ada juga yang selain itu. Pada umumnya enzim restriksi yang berbeda memiliki situs pengenalan yang berbeda, namun ada beberapa enzim yang diisolasi dari sumber yang berbeda memiliki situs pengenalan yang sama. Enzim-enzim seperti ini disebut isoschizomer, contohnya adalah enzim MboI dan Sau3AI. Walaupun situs pengenalannya sama, aktivitas pemotongannya mungkin beda. Sekuen pengenalan biasanya sama urutan basanya pada kedua utas DNA bila dibaca dengan arah yang sama. Sekuen ini disebut palindromik. Berdasarkan ujung hasil pemotongannya, enzim restriksi dapat memotong dengan ujung lengket/lancip (sticky/cohesive end) dan ujung tumpul (blunt end). Enzim yang memotong pada edua utas tidak berhadapan langsung, tetapi selisih 2-4 basa menghasilkan potongan dengan ujung lengket sedangkan enzim yang memotong pada tempat yang berhadapan menghasilkan ujung tumpul contohnya adalah enzim SmaI.
Hingga saat ini, paling tidak sudah terdapat ribuan enzim yang diperoleh dari berbagai jenis mikroorganisme. Beberapa di antaranya yang terkenal dan sering digunakan adalah enzim EcoRV, HindIII, SacI, TaqI, BamHI, MspI dan lain-lain. Semua enzim tersebut dapat dibeli pada perusahaan-perusahaan bioteknologi dengan harga yang sangat bervariasi seperti Fermentas, Eppendorf, Sigma, Promega, Novagen dan Biogen.


Readmore »»

Sekuensing DNA

Satu dari terobosan utama dalam biologi molekuler adalah perkembangan metode mensekuen potongan DNA secara cepat. Pengurutan asam nukleat memungkinkan kita bisa mengetahui kode genetik dari molekul DNA. Sekuensing dapat dilakukan dengan menggunakan satu dari dua metode yang ada. Kedua metode tersebut menghasilkan fragmen-fragmen DNA dengan panjang bervariasi, yang satu sama lain berbeda sebanyak satu basa tunggal. Dari fragmen-fragmen tersebut, kita bisa menarik kesimpulan mengenai sekuen asam nukleat molekul DNA yang diperiksa. Teknik yang digunakan adalah gel-gel poliakrilamid pendenaturasi (denaturing polyacrilamide gels). Gel agarosa dapat memisahkan molekul-molekul DNA dengan perbedaan panjang 30-50 basa, sedangkan gel poliakrilamid dapat memisahkan molekul-molekul DNA dengan perbedaan panjang satu basa. Gel-gel pendenaturasi menyebabkan molekul DNA menjadi beruntai tunggal dan tetap dalam keadaan seperti itu sepanjang proses elektroforesis. Gel pendenaturasi mengandung urea dan dijalankan dengan suhu yang ditinggikan. Kedua hal tersebut mendorong terjadinya pemisahan kedua untai molekul DNA.

Agar dapat dilihat, DNA harus diberi label. Label yang paling sering digunakan adalah isotop radioaktif, terutama 32P, 33P atau 35P. Setelah elektroforesis, gel dikeringkan dan diletakkan dengan selembar film sinar-X dalam ruang gelap. Selama penyimpanan tersebut, partikel-partikel radioaktif yang dipancarkan dari isotop pada tiap molekul DNA memapar film. Setelah film dicuci, akan tampak pita hitam pada film di posisi pita DNA pada gel. Gambar ini disebut autoradiograf, merupakan bayangan cermin posisi pita DNA pada gel.
Ada dua metode yang dapat digunakan dalam mengurutkan molekul DNA. Metode Maxam-Gilbert merupakan metode yang didasarkan atas pemotongan DNA di daerah spesifik oleh zat-zat kimiawi selain enzim. Akan tetapi, metode ini sekarang jarang digunakan, metode Sanger lebih disukai dan keduanya diperkenalkan pada tahun 1977. Metode Sanger lebih mudah, praktis dan efisien.
Dalam metode Sanger, sintesis DNA secara enzimatik terjadi melalui pembentukan secara berurut ikatan fosfodiester antara gugus fosfat ujung 5’ bebas dari nukleotida baru dengan gugus OH dari ujung 3’ rantai yang sedang memanjang. Proses ini berlangsung sepanjang molekul DNA. Dideoksinuklotida tidak mempunyai gugus OH pada ujung 3’-nya, melainkan gugus H. Adanya dideoksinukleotida menyebabkan sintesis DNA terhenti, karena ikatan difosfat tidak terbentuk. Pemanjangan rantai akan terhenti pada titik ini dan basa terakhir di ujung 3’ rantainya adalah sebuah terminator dideoksi. Modifikasi dari metode Sanger ini disebut dideoxy termination sequencing.
Dalam metode pengurutan Sanger, digunakan empat macam campuran reaksi dalam pengurutan fragmen DNA. Tiap campuran reaksi mengandung molekul DNA cetakan yang akan diurutkan, primer yang telah diberi label dengan radioaktif, keempat deoksinukleotida, DNA polimerase dan empat terminator dideoksi (ddATP, ddGTP, ddCTP, ddTTP). Jika salah satu dari terminator ini digunakan pada untai DNA yang baru terbentuk, maka sintesis untai baru ini akan terhenti, hasilnya adalah semua untai dengan panjang yang bervariasi pada campuran reaksi akan berakhir dengan basa yang sama. Produk-produk radioaktif tersebut akan dipisahkan dengan elektroforesis dan divisualisasikan melalui autoradiografi. Hasil autoradiografi dibaca dari bawah gel (fragmen terpendek yang berhenti paling dekat dengan ujung 5’) ke arah atas untuk mengetahui sekuen basa komplementer dari untai cetakan.

Proyek-proyek Sekuensing Genom
Sejalan dengan berkembangnya mesin-mesin sekuensing DNA otomatis (Automatic DNA Sequencer), sejumlah organisasi telah memberikan perhatian dan dukungan dana bagi penentuan sekuen genom berbagai spesies organisme penting. Beberapa genom yang ukurannya sangat kecil seperti genom virus HIV dan fag λ telah disekuen seluruhnya. Genom sejumlah bakteri, misalnya E. coli (4,6 x 106 bp) dan khamir Saccharomyces cerevisiase (2,3 x 107 bp) juga telah selesai disekuensing. Sementara itu, proyek sekuensing genom tanaman Arabidopsis thaliana (6,4 x 107 bp) dan nematode Caenorhabditis elegans saat ini masih berlangsung. Proyek genom manusia (Human Genome Project), yang diluncurkan pada tahun 1990 dan sebenarnya diharapkan selesai pada tahun 2005, ternyata berakhir dua tahun lebih cepat daripada jadwal yang telah ditentukan.
Pada genom manusia dan genom-genom lain yang berukuran besar biasanya dilakukan pemetaan kromosom terlebih dahulu untuk mengetahui lokus-lokus gen pada tiap kromosom. Selanjutnya, perpustakaan gen untuk suatu kromosom dikonstruksi menggunakan vektor YACs dan klon YACs yang saling tumpang tindih diisolasi hingga panjang total kromosom tersebut akan tercakup. Demikian seterusnya untuk kromosom-kromosom yang lain hingga akhirnya akan diperoleh sekuen genom total yang sambung-menyambung dari satu kromosom ke kromosom berikutnya.

Pangkalan Data Sekuen DNA
Selama bertahun-tahun telah banyak sekuen DNA yang ditentukan oleh para ilmuwan di seluruh dunia dan saat ini kebanyakan jurnal ilmiah mengisyaratkan penyerahan sekuen DNA terlebih dahulu untuk keperluan data publik sebelum mereka menerima naskah selengkapnya dari para penulis/ilmuwan. Pengelola pangkalan data akan saling bertukar informasi tentang sekuen-sekuen yang terkumpul dan menyediakannya untuk akses publik sehingga semua pangkalan data yang ada akan menjadi nara sumber yang sangat bermanfaat.
Sekuen-sekuen baru terus bertambah dengan kecepatan yang kian meningkat. Begitu pula, sejumlah perangkat lunak komputer diperlukan agar data yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan lebih baik.
EMBL di eropa dan GenBank Amerika Serikat merupakan dua pangkatalan data sekuen DNA terbesar di dunia. Selain sekuen DNA, mereka juga mengelola data sekuen RNA dan protein. Sementara itu, beberapa perusahaan mempunyai pangkalan data sekuen DNA sendiri.
Ketika sekuen suatu fragmen DNA telah diketahui, hanya ada sedikit sekali gambaran yang dapat diperoleh dari sekuen tersebut. Analisis sekuen perlu dilakukan untuk mengetahui beberapa karakteristik pentingnya seperti peta restriksi, rangka baca, kodon awal dan kodon akhir atau kemungkinan tempat promotornya. Di samping itu, perlu juga dipelajari hubungan kekerabatan suatu sekuen baru dengan beberapa sekuen lainnya yang telah terlebih dahulu diketahui. Biasanya, analisis semacam itu dilakukan menggunakan paket-paket perangkat lunak, misalnya paket GCG Universitas Wisconsin dan DNAstar.


Readmore »»

DNA Genom

Setiap makhluk hidup mempunyai sel yang di dalam inti selnya terdapat kromosom dengan jumlah berbeda-beda untuk setiap makhluk hidup. Manusia misalnya, mempunyai 23 pasang kromosom dalam tiap inti selnya. Sapi mempunyai 30 pasang kromosom, lalat buah Drosophila mempunyai 4 pasang kromosom, bakteri E. coli mempunyai 1 pasang kromosom, dan lain-lain. Total kromosom dalam inti sel dinamakan genom. Lebih tepatnya genom inti karena berasal dari inti sel. Jadi genom manusia terdiri atas 23 pasang kromosom, genom sapi terdiri atas 30 pasang kromosom, dan seterusnya. Apabila DNA dari genom tersebut direntang secara linear, ukuran DNA genom tersebut berbeda-beda pada setiap makhluk hidup. Rentangan DNA dari genom ini disebut Genomic DNA.




Tabel 1. Ukuran genom beberapa makhluk hidup dalam bentuk haploid
Dari tabel di atas, paling tidak ada beberapa poin yang bisa dibuat, yaitu:
1. Besarnya ukuran genom tidak mencerminkan ukuran makhluk hidup. Bandingkan, misalnya, antara ukuran tubuh manusia dan ukuran tubuh tikus. Namun, mereka mempunyai ukuran genom yang hampir sama.
2. Ada kemungkinan bahwa ukuran genom yang hampir sama pada dua makhluk hidup (misalnya manusia dan tikus) mempunyai organisasi genom yang hampir sama pula.
3. Virus dan bakteri merupakan makhluk hidup yang sederhana dimana mereka mempunyai ukuran genom kecil dan berarti pula organisasi genom nya juga sederhana. Oleh karenanya, tidaklah mengherankan apabila kedua makhluk hidup ini menjadi bahan utama untuk penelitian-penelitian dalam bidang genetika molekuler hingga saat ini.

DNA genom terdapat di dalam sel organisme sehingga seluruh bagian tubuh organisme dapat dijadikan sebagai sumber untuk mendapatkan atau mengisolasi DNA. Namun demikian, bagian-bagian tubuh tersebut ada yang mudah dan ada yang agak sulit untuk mempurifikasinya sehingga diperlukan teknik atau perlakuan yang khusus. Hal yang harus diperhatikan adalah prinsip-prinsip pokok dalam purifikasi DNA, yaitu:
1. Penghancuran bagian tubuh/organ menjadi bagian yang kecil
Bahan seperti jaringan otot, organ binatang, bulu rambut dan sebagainya perlu dihancurkan secara fisik dengan menggunakan mortar atau bahan pengeras seperti gas liquid nitrogen. Darah tidak memerlukan penghancuran secara fisik tetapi harus dipisahkan antara bagian yang ada DNA nya dengan yang tidak ada DNA nya dengan cara sentrifugasi kecepatan rendah. Pada mamalia DNA berada pada sel darah putih sedangkan pada reptile dan aves DNA ada di sel darah merah dan darah putih.
2. Penghancuran dinding sel dan lapisan pembungkus DNA
Dinding sel dan bagian pembungkus DNA dapat dilisis secara kimiawi maupun enzimatik atau kombinasi keduanya. Cara yang dipilih tergantung sumber DNA nya. Zat kimia yang digunakan adalah detergen karena dapat menyebabkan protein membran terdenaturasi sehingga struktur membran akan rusak. Bahan kimia yang lain misalnya sucrose, triton-X, NaCl, CTAB (Cetyl Trimethyl Ammonium Bromide) dan SDS (Sodium Dodecyl Sulphate). Untuk sel bakteri, selain menggunakan detergen, juga dapat digunakan enzim lisozim untuk memecah dinding sel khususnya untuk mengisolasi DNA genom dari bakteri gram positif.
3. Sentifugasi untuk memisahkan DNA dengan debris sel
Setelah dinding sel dan lapisan pembungkus DNA hancur, perlu dipisahkan antara debris sel dengan DNA. Pemisahan dilakukan dengan sentrifugasi kecepatan rendah (6500 rpm) untuk DNA mitokondria atau sentrifugasi kecepatan tinggi (13000 rpm) untuk DNA total.
4. Ekstraksi untuk memisahkan DNA dari materi organik lain
Pemurnian DNA biasanya dengan menggunakan fenol-kloroform-isoamil alkohol atau ammonium asetat yang akan mengendapkan protein.
5. Koagulasi dan pengendapan (Presipitasi DNA)
Presipitasi DNA bisa dengan menggunakan etanol absolut atau isopropanol. Keduanya bersifat polar sehingga dapat menarik molekul air dari DNA, sehingga DNA mengendap.
6. Pencucian, pengeringan dan pelarutan kembali
Setelah DNA murni dapat diendapkan, harus dicuci dengan etanol 70% kemudian diendapkan dengan cara sentrifugasi. Setelah pencucian endapan DNA dikeringkan untuk membebaskannya dari sisa-sisa etanol.

Kemajuan dan penemuan baru di bidang bioteknologi memang luar biasa. Ditemukan DNA polymerase yang tahan panas dengan kemampuan membaca yang akurat, juga alat sekuens DNA pipa kapiler menyebabkan penelitian pembacaan genom menghasilkan prestasi luar biasa. Dengan perkembangan teknologi rekayasa genetika yang sangat pesat, saat ini terdapat puluhan bahkan ratusan laboratorium di seluruh dunia berlomba-lomba mempelajari genom makhluk hidup. HUGO (Human Genome Organization) yang dipimpin sendiri oleh Watson (penemu struktur DNA double helix), misalnya, terus mempelajari genom manusia dengan markasnya di USA. Ada lagi MARGO (Marsupial Genom Organization) yang bermarkas di Australia yang mempelajari genom kanguru dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dengan mempelajari bagaimana genom memprediksikan fungsi suatu gen, maka manusia dapat memprediksikan pula biologi suatu organisme. Lompatan besar dalam peningkatan mutu vaksin, perbaikan alat untuk mendiagnosis penyakit, penemuan obat-obatan baru, penemuan biokatalis untuk industri.


Readmore »»

Virus dan Peranannya dalam kehidupan Manusia

Negara Indonesia beberapa tahun ini disibukkan dengan penanganan penyakit menular yang diakibatkan oleh mikroorganisme virus, penyakit flu burung yang menyebabkan kematian dengan penularan yang sangat cepat dengan perantara hewan unggas. Penyakit ini merupakan penyakit berbahaya bukan karena mampu menyebabkan kematian banyak unggas dalam waktu yang relatif singkat, melainkan karena sifatnya yang dapat menular dari unggas ke manusia dan menimbulkan kematian yang cepat pada manusia. Meskipun namanya flu burung namun ternyata penyakit ini juga menyerang hewan lain seperti babi, kucing dan musang.

Istilah virus memiliki arti racun. Keberadaan virus mempunyai dua fase, yaitu di dalam sel hidup dan di luar sel hidup. Di luar inangnya virus mempunyai ciri tersendiri, yaitu mempunyai partikel sangat kecil yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan mereka bisa lolos melewati pori-pori saringan yang tidak memungkinkan dilewati oleh bakteri. Mereka memperbanyak diri hanya di dalam sel-sel hewan, tumbuh-tumbuhan dan mikroorganisme lain. Dengan demikian, dapat dikatakan virus sebagai parasit obligat. Apakah hal tersebut sudah dibuktikan?
Bukti yang pertama kali dilakukan oleh D.J. Ivanovsky (seorang ahli botani dari Rusia) pada tahun 1892, yaitu dengan membuat preparat dari ekstrak daun tembakau yang terserang penyakit mozaik tembakau. Selanjutnya ekstrak tersebut disaring melalui penyaringan yang demikian halusnya sehingga setiap bakteri yang ada dapat tersaring. Cairan hasil penyaringan kemudian dioleskan pada daun yang sehat. Hasilnya ternyata di luar dugaan, yaitu daun menjadi sakit. Kasus tersebut dilanjutkan oleh Wendell Stanley pada tahun 1935 dari Amerika Serikat, yang berhasil mengisolasi dan mengkristalkan virus mozaik tembakau. Apabila Kristal virus diinjeksikan pada tanaman yang sehat, maka virus akan segera aktif mengganda, yang berarti hal tersebut bukan sel, jadi virus berbeda dengan bakteri.
Ukuran Virus
Virus adalah partikel berukuran sangat kecil yang dapat menginfeksi hampir semua jenis makhluk hidup. Kita tidak dapat melihat virus dengan mata telanjang, tetapi harus menggunakan mikroskop elektron, karena ukurannya sangat mikroskopik. Virus mempunyai ukuran sekitar 20-30 nanometer (nm), 1 nm = 1/1.000.000.000 meter. Ukurannya rata-rata 50 kali lebih kecil daripada bakteri.
Bentuk Virus
Virus mempunyai struktur yang sederhana, yang hanya terdiri atas selubung atau protein pelindung yang disebut kapsid yang tersusun atas molekul protein dan bagian isi yang tersusun atas asam nukleat berupa DNA atau RNA, dapat pula dilengkapi dengan pembungkus atau envelope dari lipoprotein (lipid dan protein) yang membungkus membran plasma dan berasal dari sel inang virus. Apabila pembungkus ini dibangun oleh subunit yang sama atau identik disebut kapsomer. Bentuk kapsomer ini sangat simetris dan suatu saat dapat mengkristal. Gabungan kapsomer ini akan membentuk kapsid. Dengan demikian dapat diketahui, sebuah virus memiliki bagian-bagian, yaitu memiliki materi genetik yang terbungkus oleh pembungkus protein yang dinamakan virion atau partikel virus. Jadi, virus tidak memiliki sitoplasma serta tidak memiliki organela sehingga tidak melakukan metabolisme. Lebih sederhana manakah antara sebuah sel dengan sebuah virus?


Gambar 1. Salah satu Ilustrasi Bentuk Virus
Peranan virus dalam kehidupan manusia
Coba amatilah keadaan lingkungan! Seperti yang kita lihat, virus kebanyakan bersifat merugikan karena jenis-jenis virus yang berbeda yang menginfeksi dan menyebabkan berbagai penyakit pada tumbuhan, hewan dan manusia. Tetapi dengan kelebihannya, manusia dapat menemukan virus yang dapat dimanfaatkan. Berikut ini akan diuraikan contoh-contoh virus yang menguntungkan dan merugikan.
Virus yang menguntungkan
1. Pembuatan Antitoksin
Para ahli memanfaatkan dengan menggabungkan sifat-sifat DNA yang menguntungkan antara virus dan gen lain sehingga sifat yang menguntungkan tersebut akan dimiliki oleh bakteri yang diinfeksi. Contohnya, DNA virus digabungkan dengan DNA manusia yang memiliki sifat antitoksin (pelawan racun/penyakit). Selanjutnya, virus tersebut diinfeksikan dengan sel bakteri sehingga sel bakteri ini memiliki sifat gen manusia, yaitu memiliki sifat antitoksin. Dengan demikian, bakteri yang semula tidak mempunyai sifat antitoksin sekarang sudah memiliki sifat antitoksin.
Apabila bakteri tersebut membelah terus-menerus, berarti setiap sel bakteri memiliki sifat antitoksin dan selanjutnya dapat diberikan pada manusia. Contohnya, toksoid tetanus, toksin ini disuntikkan pada manusia untuk mencegah penyakit tetanus. Toksin ini biasanya diberikan kepada ibu hamil dan calon pengantin. Adapun bagi penderita tetanus akan diberikan ATS (Anti Tetanus Serum).
2. Untuk melemahkan bakteri
Apabila virus yang menginfeksi bakteri bersifat pathogen, maka DNA virus yang masuk akan merusak DNA bakteri sehingga bakteri tersebut menjadi tidak berbahaya karena sifat patogennya telah rusak. Contohnya, bakteri difteri yang berbahaya akan berubah sifatnya jika di dalamnya tersambung oleh virus profage.
3. Untuk memproduksi vaksin
Anda tentu pernah mendapat vaksin untuk mencegah terserangnya tubuh dari beberapa jenis penyakit. Vaksin digunakan manusia untuk memperoleh kekebalan tubuh/antibodi. Vaksin ini sebenarnya merupakan bibit penyakit yang telah dilemahkan dan apabila menyerang manusia tidak akan berbahaya lagi. Untuk itulah diperlukan vaksin bagi tubuh kita. Jika ada penyakit yang menyerang manusia, maka tubuh telah memiliki kekebalan yang berasal dari antibodi bagi penyakit tersebut. Contohnya, vaksin cacar, polio dan campak.
Metode pengobatan yang paling dianggap efektif adalah vaksinasi untuk merangsang kekebalan alami tubuh terhadap proses infeksi, sedangkan penggunaan antibiotik diantisipasikan untuk mengatasi gejala infeksi virus, yang sama sekali tidak mempunyai pengaruh terhadap kehidupan virus. Efek samping penggunaan antibiotik adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik. Untuk itu diperlukan pemeriksaan lebih lanjut apakah suatu penyakit disebabkan oleh bakteri atau virus.
Virus yang merugikan
Sebagian besar virus bersifat merugikan, yaitu dapat menimbulkan berbagai penyakit pada hewan, tumbuhan maupun manusia.
Salah satu virus yang dianggap paling bahaya adalah filovirus. Grup ini terdiri atas Masburg ditemukan di Jerman tahun 1967 dan ebola. Filovirus adalah virus berbentuk panjang seperti cacing, dalam jumlah yang besar tampak seperti sepiring mie. Pada April 2005 virus Masburg penyebarannya sampai Angola. Sejak oktober 2004 hingga 2005, kejadian ini menjadi epidemis terburuk di dalam kehidupan manusia.
Virus penyebab penyakit pada manusia
Beberapa jenis penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus adalah sebagai berikut:
1. Influenza
Tentu anda pernah menderita sakit flu. Apa yang anda rasakan ketika terserang penyakit flu? Ada beberapa gejala penyakit flu, antara lain sakit kepala, batuk, demam


Readmore »»

Sejarah Perkembangan Fermentasi

Suatu bahan yang ditumbuhi oleh mikroba akan mengalami perubahan struktur kimianya. Fermentasi merupakan proses yang menghasilkan alkohol atau asam organik, misalnya terjadi pada bahan yang mengandung karbohidrat. Dalam dunia mikrobiologi industri, pokok bahasan utama adalah fermentasi.

Tahap pertama industri fermentasi dimulai sebelum tahun 1900, yaitu mulai pembuatan alkohol dan vinegar. Tahun 1837, C. Latour, Th. Schwanndon dan F. Kutzing secara terpisah menemukan bahwa zat gula mengalami fermentasi alkohol selalu dijumpai adanya khamir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perubahan gula menjadi alkohol dan CO2 merupakan fungsi fisiologis dari sel khamir tersebut. Teori biologis ini ditentang oleh Jj. Berzelius, J. Liebig dan F. Wahler. Mereka berpendapat bahwa fermentasi dan pembusukan merupakan reaksi kimia biasa. Hal ini dapat dibuktikan pada tahun 1812 telah berhasil disintesis senyawa organik urea dari senyawa anorganik. Pasteur banyak meneliti tentang proses fermentasi (1875-1876). Suatu saat perusahaan pembuat anggur dari gula bit, menghasilkan anggur yang masam. Berdasarkan pengamatannya secara mikroskopis, sebagian dari sel khamir diganti kedudukannya oleh sel lain yang berbentuk bulat dan batang dengan ukuran sel lebih kecil. Adanya sel-sel yang lebih kecil ini ternyata mengakibatkan sebagian besar proses fermentasi alkohol tersebut didesak oleh proses fermentasi lain, yaitu fermentasi asam laktat. Dari kenyataan ini, selanjutnya dibuktikan bahwa setiap proses fermentasi tertentu disebabkan oleh aktivitas mikroba tertentu pula, yang spesifik untuk proses fermentasi tersebut. Sebagai contoh fermentasi alkohol oleh khamir, fermentasi asam laktat oleh bakteri Lactobacillus dan fermentasi asam sitrat oleh jamur Aspergillus. Di arab, produksi dalam skala besar dimulai tahun 1700. Pengembangan proses dengan menggunakan thermometer dimulai tahun 1757 dan pemindahan panas pada tahun 1801. Pada pertengahan abad 19, fungsi khamir dalam fermentasi alkohol mulai dikembangkan. Pada akhir abad 19 mulai digunakan kultur murni pada pembuatan starter.
Vinegar pada mulanya dihasilkan dari oksidasi wine karena perkembangan mikroba liar. Perkembangan kemudian dengan menggunakan generator yang diikuti dengan medium penyangga. Pada akhir abad 19 dan awal abad 20 mulai digunakan medium yang dipasteurisasi dan ditambah 10% vinegar yang baik untuk menjadikan asam dan mencegah kontaminasi. Jadi konsep proses mulai dikembangkan pada awal abad 20.
Tahap kedua yaitu pada tahun 1900-1940 dengan mulai dikembangkan produk baru seperti massa sel khamir, gliserol, asam sitrat, asam laktat dan aseton-butanol. Pembuatan ragi roti merupakan proses aerob sehingga sel tumbuh cepat. Jika oksigen tidak ada maka yang dihasilkan alkohol dan bukan sel khamir. Masalah pembatas adalah konsentrasi wort awal, karena pertumbuhan sel dibatasi oleh kemampuan penggunaan sumber karbon daripada oksigen. Pertumbuhan sel juga dipengaruhi oleh penambahan wort dalam jumlah kecil selama proses. Teknik ini sekarang disebut sebagai kultur fed batch dan secara luas digunakan dalam fermentasi industri dengan oksigen sebagai pembatas. Perkembangan fermentasi aseton butanol secara aseptis selama perang dunia II dipelopori oleh Weizmann.
Pada tahap ketiga mulai dihasilkan penisilin pada kultur submerged secara aseptis. Produksi penisilin secara aerob sangat mudah mengalami kontaminasi, terutama pemasukan udara dalam skala besar. Program pengembangan strain dilakukan dalam pilot plant. Pada tahap ini (1940 sampai sekarang) banyak ditemukan proses-proses baru diantaranya antibiotik yang lain, vitamin, giberelin, asam amino, enzim dan transformasi steroid.
Tahap keempat (1960 sampai sekarang), sejumlah perusahaan besar meneliti tentang produksi protein sel tunggal untuk ternak. Tahap ini merupakan pengembangan tahap ke tida dengan skala lebih besar, dengan kemungkinan harga jual yang lebih rendah. Mulai tahap ini semakin diperhatikan kontrol peralatan dan proses menggunakan kontrol komputer dan mulai dilakukan penelitian strain yang digunakan melalui rekayasa genetik.
Tahap kelima (1979 sampai sekarang) mulai diteliti dan diproduksi senyawaan yang tidak umum dihasilkan mikroba seperti interferon, insulin dengan manipulasi genetik. Produksi konvensional juga dapat ditingkatkan melalui rekayasa genetik. Perkembangan tahap ini semakin canggih sesuai perkembangan bioteknologi.

Readmore »»

Plasmid

Kendaraan merupakan salah satu alat untuk memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Dalam bioteknologi rekayasa genetika yang telah melanda dunia saat ini, kendaraan juga diperlukan dan merupakan kebutuhan mutlak. Kendaraan yang digunakan dalam bioteknologi ini berfungsi sebagai alat untuk memindahkan gen (sepotong molekul DNA) dari satu organisme ke organisme hidup lain. Dalam bioteknologi, kendaraan tersebut dikenal dengan nama vector. Adapun gen yang bisa dipindahkan dapat berasal dari molekul DNA manusia, hewan, tumbuhan dan semua organisme hidup lainnya. Oleh karena jenis kendaraan ini berasal dari sel organisme hidup, kita sebut saja kendaraan ini sebagai biotransport.

Pada umumnya bakteri mempunyai satu kromosom berupa DNA sirkular. Namun, disamping memiliki kromosom tersebut, bakteri juga memiliki DNA sirkular lainnya yang ukurannya jauh lebih kecil daripada DNA kromosomnya. Materi ini disebut dengan plasmid yang merupakan DNA bakteri yang terpisah dari DNA kromosomnya. Plasmid merupakan satu dari beberapa jenis biotransport yang paling populer digunakan dalam bioteknologi rekayasa genetika. Beberapa karakteristik dari plasmid adalah molekul DNA utas ganda sirkuler (tidak berujung), berukuran kecil, terdapat dalam sitoplasma namun di luar kromosom (ekstra kromosom) dan dapat melakukan replikasi secara autonom, secara genetik dapat ditransfer dengan stabil, mengandung berbagai jenis gen. Jenis, jumlah jenis dan jumlah tiap jenis (copy) plasmid bervariasi antar sel. Bahkan antar sel dalam satu spesies bakteri. Plasmid terdapat di dalam sitoplasma organisme prokariot dan eukariot sederhana uniseluler. Selain dalam bakteri, plasmid juga terdapat dalam Saccharomyces cerevisiae. Pada kelompok prokariot, plasmid diketahui memiliki ukuran yang sangat bervariasi antara kurang dari 1 juta Dalton sampai 200 juta Dalton. Sifat fenotipe dari plasmid biasanya telah teridentifikasi, misalnya tahan terhadap antibiotik, memproduksi antibiotik, degradasi aroma, tahan terhadap logam berat, fermentasi gula dan lain-lain. Namun, ada pula plasmid yang belum teridentifikasi sifat fenotipe-nya dan disebut sebagai plasmid cryptic.
Dalam teknik rekayasa genetika, plasmid biasanya digunakan sebagai vektor untuk kloning. Plasmid juga dapat dipindahkan antar sel bakteri dengan cara konjugasi atau transformasi. Plasmid mulai digunakan sebagai vektor untuk mengklon gen tidak lama setelah David Jackson, Robert Simon dan Paul Berg berhasil membuat molekul DNA rekombinan itu pada tahun 1972. Dalam hal ini, plasmid digunakan sebagai pembawa fragmen DNA asing. Dengan kata lain, plasmid dikombinasikan dengan DNA asing. Plasmid rekombinan yang pertama kali berhasil bereplikasi di dalam sel bakteri adalah plasmid pSC101 yang telah dikonstruksi oleh Stanley Cohen dan Herbert Boyer (SC=Stanley Cohen).
Penamaan plasmid biasanya diawali dengan “p” diikuti oleh serangkaian kode yang menunjukkan identitas plasmid tersebut. Contoh plasmid yang umum digunakan sebagai vektor adalah pUC118, pUC119, pBR322. Plasmid-plasmid ini masing-masing membawa gen penanda resistensi terhadap antibiotik yang dapat digunakan sebagai dasar dalam seleksi koloni yang membawa plasmid dan yang tidak. Beberapa plasmid memiliki MCS (Multiple Cloning Site) pada gen lacZ yang menyandikan enzim β-galactosidase, sehingga memungkinkan melakukan seleksi biru putih. Jika vektor tersebut telah membawa gen tertentu, di belakang nama plasmid juga disertakan keterangan mengenai gen yang dibawanya (contoh: pAP01 (amyH), berarti plasmid hasil konstruksi ini mengandung gen amyH).
Untuk mengisolasi DNA plasmid dari keseluruhan genom yang dimiliki oleh bakteri, biasanya digunakan metode lisis alkali atau sentrifugasi dalam gradien CsCl. Kedua metode ini akan memisahkan DNA plasmid dari DNA kromosom berdasarkan kerapatannya. Pada metode lisis alkali, sel bakteri dilisis dalam suasana alkali sehingga dsDNA akan terdenaturasi menjadi ssDNA. Setelah dinetralkan, DNA plasmid yang berukuran lebih kecil dibandingkan DNA kromosom akan lebih cepat mengalami renaturasi. Selanjutnya dengan sentrifugasi keduanya dapat dipisahkan. Metode ini dapat menghasilkan plasmid dengan kemurnian yang tinggi.
Berdasarkan metode lisis alkali, sekarang ini telah banyak dikembangkan suatu kit untuk isolasi plasmid. Dibandingkan dengan metode lisis alkali konvensional, dengan menggunakan kit, pekerjaan menjadi lebih cepat dan mudah. Untuk mendapatkan kemurnian yang tinggi, biasanya kit semacam ini menggunakan agen pengikat DNA dalam bentuk beads atau spin column yang akan mengikat DNA dengan kuat sehingga pengotor lainnya dapat dihilangkan saat pencucian. Setelah itu, DNA dapat diperoleh kembali dengan menambahkan suatu larutan yang dapat melepaskan ikatan antara DNA dengan agen tersebut (proses elusi).


Gambar 1. Beberapa contoh site map Plasmid
Salah satu contoh plasmid yang telah lama digunakan sebagai vektor untuk mengklon gen adalah plasmid pBR322. Plasmid tersebut mengandung gen penyandi resistensi terhadap ampisilin dan tetrasiklin. Pada gambar di bawah ditunjukkan adanya berbagai situs yang telah dipotong oleh enzim restriksi. Adanya gen resistensi terhadap antibiotik di dalamnya mengandung situs enzim restriksi yang akan memberikan kemudahan dalam menyeleksi plasmid rekombinan atau memudahkan dalam menyeleksi klon bakteri yang telah membawa plasmid rekombinan. Akan lebih memudahkan lagi dengan adanya enzim yang memotong pada bagian gen resistensi terhadap antibiotik. Misalnya enzim PstI yang hanya akan memotong pBR322 pada bagian gen resistensi terhadap ampisilin (gen ApR).
Contoh plasmid lainnya yang telah lama digunakan sebagai vektor untuk mengklon gen adalah plasmid pUC118 dan pUC119. Plasmid ini merupakan pengembangan dari pBR322. Plasmid pUC118 dan pUC119 mengandung gen lacZ yang menyandikan enzim β-galaktosidase. Pada lacZ terdapat daerah yang disebut daerah polikloning. Pada daerah ini terdapat banyak situs restriksi dari berbagai enzim restriksi. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan berbagai enzim restriksi untuk memotong pUC118 dan pUC119 pada bagian lacZ. Bila gen lacZ disisipi oleh DNA asing maka gen lacZ tersebut tidak berfungsi (tidak menghasilkan β-galaktosidase). Bila kita menggunakan pUC118 atau pUC119 sebagai vektor, maka koloni yang membawa plasmid rekombinan dapat dideteksi dengan menggunakan Xgal (5-bromo-4-chloro-indolyl-β-D-galactosida). Enzim β-galaktosidase akan memecah Xgal menjadi galaktosa dan 5-bromo-4-chloroindigo yang berwarna biru. Koloni bakteri akan berwarna putih bila pUC118 atau pUC119 telah disisipi DNA asing pada bagian lacZ. Dalam hal ini sel bakteri tidak menghasilkan enzim β-galaktosidase karena gen lacZ. Gen lacZ tidak berfungsi karena disisipi oleh DNA asing.
Dari beberapa perangkat di atas (enzim restriksi, enzim DNA ligase dan plasmid) telah memungkinkan bagi kita untuk mengklonkan gen atau fragmen DNA. Dalam hal ini, kita dapat membuat plasmid rekombinan (plasmid yang mengandung fragmen DNA asing) di dalam tabung reaksi. Bila dikombinasikan dengan salah satu cara bakteri memindahkan DNA yaitu transformasi, kita dapat memasukkan plasmid rekombinan tersebut ke dalam sel bakteri.



Readmore »»

Elektroforesis

Hasil dari berbagai manipulasi DNA dan analisis DNA dapat dimonitor melalui proses elektroforesis yang merupakan suatu teknik pemisahan senyawa yang bermuatan dengan meletakkannya pada suatu medan listrik. Separasi material elektroforesis didasarkan pada perbedaan dalam muatan molekul, ukuran molekul, atau kombinasi antara keduanya. Karena elektroforesis merupakan pergerakan dari molekul bermuatan listrik pada medan arus listrik maka molekul bermuatan negatif akan bergerak ke elektroda bermuatan positif (kutub positif) dan molekul bermuatan positif akan bermigrasi ke arah kutub negatif.

Elektroforesis merupakan teknik yang umum digunakan untuk analisis DNA dan protein. Melalui teknik ini dapat ditentukan:
1. Berat molekul suatu bahan
2. Banyaknya jenis protein pada suatu sampel
3. Adanya pemalsuan bahan atau kerusakan/kontaminasi bahan
4. Adanya antibodi terhadap virus atau bakteri pathogen tertentu
5. Titik isoelektrik protein
Berbagai macam teknik elektroforesis telah berkembang yaitu elektroforesis horizontal maupun vertikal. Berdasarkan jenisnya, ada dua macam elektroforesis yaitu:
1. Elektroforesis bebas (free electrophoresis): molekul atau partikel yang akan dipisahkan tersebar di seluruh larutan. Pemberian arus listrik pada larutan yang mengandung partikel tersebut akan menyebabkan terbentuknya batas di antara dua larutan.
2. Elektroforesis zona: merupakan jenis elektroforesis yang paling banyak digunakan, mempergunakan media penunjang, seperti kertas, selulosa asetat, agarosa atau poliakrilamid.
Untuk analisis DNA gel yang digunakan adalah agarosa, suatu polisakarida. Elektroforesis yang dilakukan adalah sistem horizontal. DNA yang bermuatan negatif akan bergerak ke arah kutub positif melalui molekul-molekul agarosa. Selain agarosa, gel poliakrilamid juga dapat digunakan untuk memisahkan DNA, terutama untuk fragmen yang berukuran kecil (antara 5 bp-<1 kb), misalnya untuk sekuensing. Laju migrasi DNA pada agarosa dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Arus listrik
Semakin besar arus listrik yang digunakan, laju migrasi akan semakin cepat. Akan tetapi jika arus yang digunakan besar, akan menimbulkan panas yang dapat menyebabkan gel meleleh.
2. Konsentrasi gel
Konsentrasi agarosa yang digunakan akan menentukan besarnya pori-pori gel yang akan memisahkan DNA. Untuk mendapatkan resolusi yang tinggi digunakan konsentrasi agarosa yang lebih tinggi. Agarosa umumnya dipakai dalam konsentrasi antara 1%-3%. Berikut adalah konsentrasi agarosa yang harus digunakan untuk memisahkan DNA berukuran tertentu:


Tabel 1. Konsentrasi agarosa dalam pemisahan DNA berdasarkan ukuran (kb)
3. Ukuran molekul
Molekul yang berukuran lebih kecil akan lebih mudah melalui pori-pori gel sehingga laju migrasinya lebih cepat. Tetapi ini hanya berlaku untuk fragmen yang berukuran antara 0,5-15 kbp dan bila konformasinya sama. Kecepatan migrasi akan berbanding terbalik dengan log 10 dari jumlah pasangan basa.
4. Bentuk molekul
DNA dapat memiliki beberapa kemungkinan bentuk, yaitu supercoil (SC), sirkular (S), linear (L). Laju migrasi masing-masing dari yang paling cepat adalah SC > L > S. Untuk SC dan S, laju migrasinya lebih ditentukan oleh bentuk molekul daripada ukurannya.
5. ssDNA (single stranded DNA) lebih cepat migrasinya dibandingkan dengan dsDNA (double stranded DNA) yang berukuran sama.
6. Arah medan listrik
Molekul DNA akan bermigrasi dengan kecepatan yang berbanding terbalik dengan ukuran molekulnya jika medan listrik tetap/konstan. Jika arah medan listrik diubah, molekul yang besar akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk reorientasi. Elektroforesis dengan mengubah arah medan listrik secara periodik dikenal dengan Pulsed Field Gel Electrophoresis (PFGE).
7. Adanya Ethidium Bromida di dalam gel
Hal ini mengakibatkan pengurangan tingkat kecepatan migrasi molekul DNA linear sebesar 15%. Larutan ini sangat berbahaya dan bersifat karsinogenik. Semua larutan yang mengandung ethidium bromida harus didekontaminasi sebelum dibuang.
8. Komposisi Larutan Bufer
Apabila tidak ada kekuatan ion di dalam larutan, maka aliran listrik akan sangat minimal dan migrasi DNA sangat lambat, sedangkan larutan bufer berkekuatan ion tinggi akan meningkatkan panas sehingga aliran listrik akan menjadi sangat maksimal. Ada kemungkinan gel akan meleleh dan DNA dapat mengalami denaturasi.
Peralatan untuk elektroforesis secara umum terdiri dari 2 komponen utama, yaitu power supply sebagai sumber arus listrik dan tangki elektroforesis. Untuk menghantarkan listrik, gel diletakkan dalam suatu bufer (TAE/TBE). Bufer yang sama digunakan untuk membuat gel. Untuk pewarnaan digunakan Ethidium Bromida, suatu zat pewarna yang dapat menyisip/interkalasi di antara basa DNA pada dua utas DNA yang berlainan. Ethidium Bromida (EtBr) akan berpendar di bawah paparan sinar UV. Pewarna ini dapat ditambahkan pada gel dan bufer sehingga tidak perlu melakukan staining sesudah proses elektroforesis. Keuntungannya adalah lebih praktis, tetapi kemungkinan kontaminasi EtBr lebih besar. EtBr adalah zat yang bersifat karsinogenik sehingga harus dihindari kontak langsung.


Gambar 1. Peralatan Elektroforesis
Untuk memasukkan sampel pada sumur-sumur yang ada di gel, sampel harus dicampur dengan loading bufer yang biasanya mengandung pemberat dan satu/lebih zat warna. Gliserol/sukrosa berfungsi sebagai pemberat sehingga sampel dapat tenggelam ke dasar gel dan tidak melayang keluar. Zat warna yang digunakan biasanya adalah bromophenol blue dan/atau xylene cyanol. Fungsinya adalah untuk menandai kemajuan proses elektroforesis dan menentukan kapan saatnya harus menghentikan proses.
Setelah elektroforesis selesai, gel direndam dalam larutan EtBr (jika tidak ditambahkan pada gel/buffer). Selanjutnya gel dibilas dan dilihat di bawah paparan sinar UV. Ethidium Bromida yang menginterkalasi diantara 2 utas DNA akan berpendar, sehingga dapat dilihat fragmen-fragmen DNA yang terpisah. Bila dibutuhkan gel dapat difoto dengan kamera Polaroid.
Untuk penanda ukuran molekul, digunakan potongan-potongan DNA yang telah diketahui ukurannya. Untuk menentukan ukuran fragmen DNA pada sampel dibandingkan mobilitasnya relatif terhadap fragmen penanda. Penanda yang paling banyak digunakan adalah DNA bacteriofag lambda yang dipotong dengan enzim restriksi HindIII. Selanjutnya dibuat kurva standar antara log ukuran fragmen dengan mobilitasnya. Kurva ini dapat digunakan untuk menentukan ukuran fragmen DNA pada sampel.
Selama ini, dikenal dua jenis gel yang sering digunakan untuk proses elektroforesis, yaitu gel agarosa dan gel poliakrilamid.
1. Gel agarosa
Secara fisik, agarosa tampak seperti bubuk putih yang sangat halus. Agarosa yang dijual secara komersial terkontaminasi dengan polisakarida, garam dan protein. Banyak sedikitnya kontaminasi di dalam gel dan kemampuan mengambil DNA dari dalam gel untuk digunakan sebagai substrat dalam reaksi enzimatis. Gel agarosa dapat dicetak dengan memanaskan agarosa dalam larutan bufer sampai didapatkan larutan jernih. Larutan yang masih cair (dengan temperatur sekitar 60°C) dituangkan ke dalam pencetak gel. Segera setelah itu, sisir ditempatkan di dekat tepian gel dan gel dibiarkan mengeras. Kepadatan gel bergantung pada presentase agarosa di dalam larutan tadi. Apabila gel telah mengeras, sisir dicabut sehingga akan terbentuk sumur-sumur yang digunakan untuk menempatkan larutan DNA. Jika gel ditempatkan ke dalam tangki elektroforesis yang mengandung larutan bufer dan tangki tersebut dialiri listrik, molekul DNA yang bermuatan negatif pada pH netral akan bergerak (migrasi) ke arah positif (anoda).
2. Gel Poliakrilamid
Terbentuknya gel ini tidak dilakukan dengan pemanasan, tetapi dengan mencampurkan larutan akrilamid dengan ammonium persulfat dan TEMED (N,N,N’,N’-tetramethyl ethylenediamine). Pencampuran ini akan mengakibatkan monomer akrilamid mengalami polimerisasi menjadi rantai panjang. Dengan penambahan senyawa lain N,N’-methylene bisacrylamide di dalam proses polimerisasi, terbentuk cross linked antar rantai panjang sehingga terbentuk gel yang tingkat porositasnya ditentukan oleh panjang rantai dan derajat penyilangan antar rantai (cross link).
Panjang rantai polimer akrilamid ditentukan oleh konsentrasi akrilamid di dalam reaksi polimerisasi (antara 3,5% dan 20%). Senyawa bisacrylamide yang berfungsi sebagai cross linker ditambahkan dengan perbandingan 1:29 terhadap akrilamid. Efektifitas pemisahan DNA di dalam gel poliakrilamid tergantung dari konsentrasi akrilamid.
Gel poliakrilamid dapat disiapkan untuk elektroforesis sepanjang 10 cm sampai 100 cm, yang bergantung dari pemisahan DNA yang diinginkan dan elektroforesis dilakukan pada posisi vertikal (tidak horizontal seperti pada gel agarosa). Dibanding gel agarosa, gel poliakrilamid memiliki beberapa keuntungan, yaitu:
1. Resolusi dalam memisahkan DNA lebih tinggi sehingga panjang molekul DNA yang berbeda hanya satu nukleotida dapat dideteksi.
2. Gel poliakrilamid dapat menampung jumlah DNA yang labih besar daripada gel agarosa.
3. DNA yang diekstrak dari gel poliakrilamid bersifat sangat murni dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.
Ada dua jenis poliakrilamid yang biasa digunakan, yaitu:
1. Gel poliakrilamid non-denaturasi untuk separasi dan purifikasi molekul DNA untai ganda (double stranded DNA). Gel ini digunakan untuk elektroforesis dalam larutan TBE (penyangga) dengan voltase rendah (1-8 V/cm) untuk mencegah terjadinya denaturasi (pembelahan) molekul DNA akibat panas yang ditimbulkan aliran listrik. Kecepatan migrasi molekul DNA untai ganda di dalam gel ini kira-kira berbanding terbalik dengan log10 ukuran molekul DNA. Kecepatan migrasi ini juga dipengaruhi oleh komposisi basa dan sekuen DNA. Jadi, dua molekul DNA yang berukuran persis sama mengalami migrasi dengan kecepatan yang berbeda sekitar 10%. Karena karakter yang demikian, gel ini tidak dapat digunakan untuk menentukan ukuran panjang molekul DNA untai ganda.
2. Gel poliakrilamid denaturasi untuk separasi dan purifikasi molekul DNA untai tunggal (single stranded DNA). Gel ini dibuat dengan mencampurkan senyawa kimia (urea atau dapat juga formamide) yang mencegah terjadinya penempelan antar nukleotida yang saling berkomplemen (base pairing). Alkali tidak dapat digunakan karena dapat mendeaminasi akrilamid sedangkan methylmercuric hydroxide juga tidak dapat digunakan karena dapat menghambat proses polimerisasi akrilamid. Migrasi molekul DNA untai tunggal di dalam gel ini sama sekali tidak terpengaruh oleh komposisi basa dan sekuen DNA. Sampai saat ini, gel jenis ini sering digunakan untuk isolasi DNA berlabel, analisis DNA hasil digesti enzim nuklease atau yang paling sering untuk mensekuen DNA (DNA Sequensing).



Readmore »»

Faktor yang menentukan keberhasilan PCR

Keberhasilan PCR ditentukan oleh beberapa hal yang akan dijelaskan lebih detail dalam tulisan kali ini. Keunggulan metode PCR adalah kemampuannya dalam melipatgandakan suatu fragmen DNA sehingga dapat mencapai 109 kali lipat. Dengan demikian, kontaminasi fragmen DNA dalam jumlah sangat sedikit sekalipun dapat menyebabkan terjadinya kesalahan yaitu dengan didapatkannya produk amplifikasi yang tidak diinginkan atau bahkan tidak spesifik.

1. Konsentrasi dan kualitas DNA
Konsentrasi DNA sebesar 0,01-0,1 µg setiap µl larutan template sudah cukup baik untuk PCR namun yang paling penting adalah DNA harus bebas dari pengotor seperti protein atau bahan-bahan yang tersisa saat purifikasi seperti fenol atau alkohol. Purifikasi dapat dilakukan dengan menggunakan GFX DNA Column. DNA yang digunakan sebagai cetakan dapat berupa rantai tunggal maupun rantai ganda. Efisiensi amplifikasi biasanya dapat lebih tinggi jika menggunakan molekul DNA yang sudah dilinearkan dengan suatu enzim restriksi tertentu daripada menggunakan DNA yang berbentuk sirkular (Sambrook et al., 1989).
2. Temperatur Annealing dari kedua primer
Ukuran dan komposisi primer sangat mempengaruhi temperatur penempelan primer terhadap untaian DNA target. Umumnya primer sebesar 17-30 basa nukleotida dengan komposisi GC lebih dari 50%.
3. Konsentrasi MgCl2
Konsentrasi MgCl2 sangat mempengaruhi spesifikasi produk PCR, aktivitas serta kekhususan kerja enzim, penguatan primer mencapai suhu optimumnya (primer annealing) dan penguatan fungsi primer dalam sintesis pemanjangan rantai nukleotida. Konsentrasi optimumnya 1,5-4,0 mM. Namun, apabila preparasi DNA banyak menggunakan EDTA untuk pengawetnya maka MgCl2 akan lebih tinggi dari keadaan normal.
4. Enzim Polimerase
Konsentrasi enzim yang digunakan sangat tergantung dari jenis enzim. Pada umumnya konsentrasi optimum berkisar antara 1,0-2,5 unit enzim setiap volume reaksi 50 µl. Sebaiknya pemakaian enzim tidak melebihi 2,5 unit karena malah justru akan menurunkan spesifitasnya.
5. Konsentrasi dan kualitas primer
Kualitas primer sangat tergantung pada kualitas oligoprimer dan OD (optical density). Namun demikian, konsentrasi primer sekitar 20 pmol sudah cukup memadai untuk amplifikasi PCR. Konsentrasi primer yang lebih tinggi dari 1,0 µM dapat menyebabkan terakumulasinya hasil polimerisasi yang nonspesifik. Primer-primer yang akan digunakan (baik forward primer maupun reverse primer sebaiknya mempunyai nilai Tm (melting temperature) yang serupa. Tm adalah suhu pada saat setengah dari molekul DNA mengalami denaturasi. Nilai Tm oligonukleotida dapat dihitung dengan menggunakan formula Tm = 2 (A+T) + 4 (G+C).
6. Jumlah Siklus PCR
Jumlah siklus terkait dengan konsentrasi awal DNA target dan konsentrasi akhir yang diharapkan. Siklus yang terlalu banyak justru akan meningkatkan konsentrasi produk yang tidak spesifik, sedangkan siklus yang terlalu sedikit akan mengurangi kuantitas produk yang diharapkan.
7. Deoksinukleotida triphosphate (dNTP)
Konsentrasi dNTP mix yang menghasilkan keseimbangan optimal terdiri atas dATP, dCTP, dGTP, dTTP sebesar 10-20 µM. Umumnya produk ini sudah didapatkan dalam bentuk mix dan ready stock. Namun, jika masih dijumpai dalam bentuk terpisah, sebaiknya keempat komponen tersebut memiliki konsentrasi yang sama ketika akan digunakan untuk memperkecil kemungkinan kesalahan penggabungan nukleotida selama proses polimerisasi. Menurut Gelfand dan White (1990), konsentrasi dNTP sebesar 20 µM dalam 100 µl secara teoritis cukup untuk mensintesis 2,6 µg atau 10 pmol DNA yang mempunyai panjang 400 bp.
8. Materi Pendukung berupa larutan penyangga (buffer PCR) yang direkomendasikan mengandung
a) Tris-HCl 10-50 mM dengan pH 8,3-8,8 dan suhu 20°C
b) KCl 10-20 mM yang dapat membantu proses annealing (catatan: menggunakan konsentrasi lebih dari 50 mM dapat menghambat aktivitas Taq DNA Polymerase)
c) (NH4)2SO4 10 mM
d) Gelatin atau albumin serum sebesar 100 µg/ml
e) Ion detergen seperti Tween 20 atau Laureth 12 sebesar 0,05-0,1% untuk mempertahankan kestabilan enzim Taq DNA Polymerase.
Selain faktor di atas yang berhubungan dengan komponen PCR, ada beberapa kiat yang bisa diterapkan saat akan mengerjakan proses PCR sehingga dapat menunjang keberhasilannya. Antara lain:
1. Kecermatan dalam Teknik Laboratorium
a) Usahakan selalu memakai sarung tangan dan gantilah sarung tangan tersebut kalau sudah terkotori oleh komponen atau reagen yang digunakan dalam PCR maupun kotoran lain. Hal ini dimaksudkan untuk memperkecil kemungkinan kontaminasi silang antar sampel PCR.
b) Usahakan untuk membuka maupun menutup tabung dengan hati-hati sehingga tidak ada cipratan komponen reaksi, baik pada tangan maupun pada peralatan yang lain. Ada baiknya untuk selalu melakukan sentrifugasi secara cepat (spin down) setiap kali melakukan campuran, sehingga seluruh komponen yang tercampur berada di bagian bawah tabung.
2. Pemisahan Pekerjaan PCR dari Reaksi yang lain
Sebaiknya tempat untuk melakukan PCR dipisahkan dari tempat untuk melakukan manipulasi genetik yang lain seperti ligasi dan analisis restriksi karena hal tersebut merupakan sumber kontaminasi yang paling potensial (melibatkan fragmen-fragmen DNA). Jika fragmen tersebut mengkontaminasi tabung PCR, hal ini dapat memberikan hasil positif yang palsu (false positives). Ketaatan dalam mengikuti prosedur dapat mengurangi resiko kontaminasi. Cara yang cepat dan sederhana dalam menyiapkan sampel dapat pula mengurangi false prositives (Kwok dan Hiraguchi, 1989).
3. Mikropipet dan Tip
Kedua hal tersebut merupakan sumber kontaminasi yang rawan. Oleh karena itu sebaiknya digunakan positive displacement pippetes yaitu suatu pipet yang menggunakan tip khusus dan mempunyai plunger di dalamnya yang digunakan sebagai penekan cairan yang akan dimasukkan ke tabung dan sekaligus memisahkan cairan reagen dari pipet mikro penyedotnya sehingga tidak ada kemungkinan cairan reagen tersebut masuk ke dalam pipet mikro penyedotnya.
Hal yang terpenting adalah “jangan sekali-kali menggunakan lagi tip yang sudah pernah digunakan sebelumnya, baik untuk PCR maupun untuk manipulasi genetik yang lain, meskipun tip tersebut sudah dicuci.
4. Sumber Kontaminasi yang lain
a) DNA plasmid atau phage yang mengandung sekuen target yang akan diamplifikasi.
b) Fragmen DNA restriksi yang telah dipurifikasi dan akan digunakan sebagai sekuen target.
c) Mesin sentrifugasi
d) Campuran es kering-etanol yang digunakan untuk mengendapkan DNA
5. Penggunaan Kontrol
Untuk mengetahui ada tidaknya kontaminan di dalam komponen PCR, ada baiknya kita menggunakan kontrol dengan mencampurkan komponen PCR namun tanpa diberi DNA cetakan. Selain itu, juga dapat digunakan control yang lain yaitu suatu DNA plasmid yang secara teoritis bukan merupakan DNA cetakan.
Teknik PCR dapat digunakan untuk diagnosis, identifikasi, analisis kekerabatan, kloning, dll. Teknik ini dapat dikombinasikan dengan teknik lain untuk analisis kekerabatan misalnya dengan RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism) dan Sekuensing.

DAFTAR PUSTAKA
Gelfand, D. H and White, T. J. 1990. Thermostable DNA Polymerase for PCR Protocols: A Guide to Methods and Aplications. San Diego: Academic Press Inc.
Sambrook, J; Fritsch and Maniatis, T. 1989. Molecular Cloning: A Laboratory Manual. Second Edition. Cold Spring Harbour: Laboratory Press.
Yuwono, T. 2006. Teori dan Aplikasi Polymerase Chain Reaction. Jogjakarta: Penerbit ANDI. Hal: 17-23.



Readmore »»

Polymerase Chain Reaction

PCR merupakan suatu reaksi in vitro untuk menggandakan jumlah molekul DNA pada target tertentu dengan cara mensintesis molekul DNA baru yang berkomplemen dengan molekul DNA target tersebut dengan bantuan enzim dan oligonukleotida sebagai primer dalam suatu thermocycler. Panjang target DNA berkisar antara puluhan sampai ribuan nukleotida yang posisinya diapit sepasang primer.
Metode ini pertama kali dikembangkan oleh Kary B. Mullis pada tahun 1985 yang merupakan seorang peneliti di perusahaan CETUS Corporation. Metode ini sekarang telah banyak digunakan untuk berbagai macam manipulasi dan analisis genetik. Pada awal perkembangannya metode ini hanya digunakan untuk melipatgandakan molekul DNA, tetapi kemudian dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan pula untuk melipatgandakan dan melakukan kuantitasi molekul mRNA.

Konsep asli teknologi PCR mensyaratkan bahwa bagian tertentu sekuen DNA yang akan dilipatgandakan harus diketahui terlebih dahulu sebelum proses pelipatgandaan tersebut dilakukan karena terkait untuk menyediakan primer, yaitu suatu sekuen oligonukleotida pendek yang berfungsi mengawali sintesis rantai DNA dalam reaksi berantai polimerase.
Komponen dan tahapan PCR
Penggunaan urutan basa nukleotida berlangsung melalui reaksi polimerisasi yang dilakukan berulang-ulang secara berantai selama beberapa putaran (siklus). Tiap reaksi polimerisasi membutuhkan komponen-komponen sintesis DNA seperti untai DNA yang akan digunakan sebagai cetakan (template), molekul oligonukleotida untai tunggal ujung 3’-OH bebas yang berfungsi sebagai precursor (primer), sumber basa nukleotida berupa empat macam dNTP (dATP, dGTP, dCTP, dTTP), enzim polimerase, serta larutan penyangga berupa buffer.
1. DNA template adalah DNA untai ganda yang membawa urutan basa fragmen atau gen yang akan digandakan. Urutan basa ini disebut juga urutan target (target sequence). Penggandaan urutan target pada dasarnya merupakan akumulasi hasil polimerisasi molekul primer. Jumlah yang digunakan dalam proses PCR tidak terlalu berpengaruh terhadap kualitas hasil PCR, tetapi jumlah dalam ukuran pikogram sudah cukup. Apabila target yang digunakan berupa total DNA genome, ada baiknya kalau DNA tersebut dipotong terlebih dahulu dengan enzim tertentu sehingga potongan DNA yang dihasilkan masih berukuran cukup besar, misalnya enzim SalI atau NotI yang mempunyai sedikit situs pemotongan di dalam total DNA genome.
2. Primer adalah molekul oligonukleotida untai tunggal yang terdiri atas sekitar 30 basa. Polimerisasi primer dapat berlangsung karena adanya penambahan basa demi basa dari dNTP yang dikatalisasi oleh enzim DNA polimerase. Namun, pada PCR enzim DNA polimerase yang digunakan harus termostabil karena salah satu tahap reaksinya adalah denaturasi untai ganda DNA yang membutuhkan suhu sangat tinggi (± 95°C). Salah satu enzim DNA polimerase yang umum digunakan adalah Taq DNA polimerase, yang berasal dari bakteri termofilik Thermus aquaticus. Ada beberapa catatan terkait dengan jumlah basa yang digunakan dalam urutan primer apabila PCR digunakan dalam analisis RAPD (Randomly Amplified Polymorphic DNA), ukuran primer tidak boleh lebih panjang dari 10 basa nukleotida. Dalam hal ini, kita memang tidak membutuhkan penempelan primer ke DNA target secara spesifik tetapi secara acak (random). Biasanya, konsentrasi primer yang dibutuhkan dalam proses PCR sekitar 1µM yang sudah cukup digunakan untuk sedikitnya 30 siklus. Primer yang diberikan dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan penempelan pada sekuen DNA yang salah sehingga hasil PCR yang didapatkan tidak seperti yang diharapkan. Sebaliknya apabila primer berkonsentrasi rendah, proses PCR tidak dapat berjalan secara efisien, karena hasil amplifikasi yang diperoleh akan sangat sedikit. Penentuan konsentrasi primer secara tepat kadang-kadang harus melalui uji coba dengan menggunakan primer pada konsentrasi sangat rendah sampai konsentrasi sangat tinggi.
3. Enzim Taq Polymerase yang beredar saat ini terdiri atas dua macam, yaitu enzim alami (native) yang diisolasi dari sel bakteri Thermus aquaticus dan enzim rekombinan yang disintesis di dalam sel bakteri E. coli. Pada dasarnya tidak ada perbedaan di antara keduanya sehingga kita dapat menggunakan keduanya. Konsentrasi enzim yang dibutuhkan tidak lebih dari 1 unit. Penggunaan 0,3 unit enzim masih memberikan hasil PCR yang berkualitas baik. Namun demikian, konsentrasi enzim yang berlebihan dapat menyebabkan amplifikasi DNA pada sekuen yang bukan target.
4. Deoxyribonucleoside Triphosphate (dNTPs) merupakan material utama yang dibutuhkan untuk sintesis DNA baru dalam proses PCR. Konsentrasi yang dibutuhkan sebanyak 200µM untuk tiap dNTP yang terdiri atas dATP, dGTP, dCTP, dTTP. Material ini tersedia dalam bentuk campuran keempat dNTP tersebut atau dalam bentuk terpisah satu sama lain.
5. Larutan penyangga (buffer) yang biasa digunakan untuk reaksi PCR mengandung 10 mM Tris-HCl pH 8,3 50 mM KCl dan 1,5mM MgCl2. Keberadaan ion Mg sangat penting dan perlu disesuaikan konsentrasinya apabila ada perubahan konsentrasi pada DNA target atau primer atau dNTP.
Tiap putaran reaksi PCR terdiri atas tiga tahap, yaitu denaturasi template, penempelan primer (annealing) dan polimerisasi primer yang masing-masing berlangsung pada suhu lebih kurang 95°C, 50°C dan 70°C.
Pada tahap denaturasi, pasangan untai DNA template terpisah satu sama lain karena terputusnya ikatan hidrogen antar basa-basanya sehingga menjadi untai tunggal.
Pada tahap selanjutnya, masing-masing untai tunggal akan ditempeli primer. Jadi, ada dua buah primer yang masing-masing menempel pada untai tunggal DNA template. Biasanya, kedua primer tersebut dinamakan primer maju (forward primer) dan primer mundur (reverse primer). Sepasang primer tersebut akan berhibridisasi menjadi sekuen komplementer pada untai tunggal DNA. Pasangan primer tersebut dipilih sedemikian rupa agar satu primer bersifat komplementer terhadap salah satu ujung gen yang diinginkan pada salah satu rantai. Sementara itu, primer kedua bersifat komplementer dengan ujung yang lainnya pada untai DNA yang satu lagi. Primer akan membentuk ikatan hidrogen dengan sekuen komplementernya sehingga terbentuklah molekul untai ganda yang stabil.
Setelah menempel pada untai DNA template, primer mengalami polimerisasi mulai dari tempat penempelannya hingga ujung 5’ DNA template (ingat: polimerisasi DNA selalu berjalan dari ujung 5’ ke ujung 3’ atau berarti dari ujung 3’ ke ujung 5’ untai template nya). Dengan demikian, pada akhir putaran reaksi pertama akan diperoleh dua pasang untai DNA jika DNA template awalnya berupa sepasang untai DNA.
Pasangan-pasangan untai DNA yang diperoleh pada suatu akhir putaran reaksi akan menjadi template pada putaran reaksi berikutnya. Begitu seterusnya hingga pada putaran yang ke n diharapkan akan diperoleh fragmen DNA pendek sebanyak 2n-2n. Fragmen DNA pendek yang dimaksudkan adalah fragmen yang ukurannya sama dengan jarak antara kedua tempat penempelan primer. Fragmen pendek inilah yang merupakan ukuran target yang memang dikehendaki untuk digandakan (diamplifikasi).

Gambar 1. Siklus Pembentukan Molekul DNA baru dalam Proses PCR
Bisa kita bayangkan seandainya PCR dilakukan dalam 20 putaran saja, maka pada akhir reaksi akan diperoleh fragmen urutan target sebanyak 220-2(20) = 1.048.576-40 = 1.048.536. Jumlah ini masih dengan asumsi bahwa DNA template awalnya hanya satu untai ganda. Padahal kenyataanya, hampir tidak mungkin DNA template awal hanya berupa satu untai ganda. Jika DNA template awal terdiri atas 20 untai ganda saja, maka jumlah tadi tinggal dikalikan 20 menjadi 20.970.720, suatu jumlah yang sangat cukup bila akan digunakan sebagai fragmen pelacak.

DAFTAR PUSTAKA
Muladno. 2002. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Edisi I. Bogor: Pustaka Wirausaha Muda dan USESE Foundation. Hal 61-65.
Stansfield, W.D; J. S. Colone; and R. J. Cano. 2003. Moleculer and Cell Biology. Mc. Graw-Hill Companies. Hal 84.
Susanto, A.H. 2008. Polymerase Chain Reaction. Unsoed
Yuwono, T. 2006. Teori dan Aplikasi Polymerase Chain Reaction. Yogyakarta: Penerbit ANDI. Hal 01-02.


Readmore »»

Kloning

Penemuan-penemuan dalam bidang biologi molekuler telah memungkinkan para ilmuwan untuk menduplikasi fenomena transfer genetik di dalam laboratorium dan mengembangkan metode untuk mengintroduksi hampir semua jenis informasi genetik ke dalam suatu organisme. Teknologi genetik telah mencapai titik dimana kita dapat menciptakan duplikat yang sama dari hewan-hewan tingkat tinggi. Kita telah menghasilkan klon domba dan monyet serta embrio manusia telah berhasil diduplikasi dalam laboratorium. Kelahiran dolly, domba hasil klon yang pertama, memang sebuah kejadian yang penting. Dolly direproduksi tanpa bantuan domba jantan, dari sebuah sel kelenjar susu, bukan dari sel reproduksi, yang diambil secara acak dari seekor domba dewasa.

Gen menjadi dasar dalam pengembangan penelitian genetika meliputi pemetaan gen dan menganalisis posisi gen pada kromosom. Hasil penelitian telah berkembang pesat dengan diketahuinya DNA sebagai material genetik beserta strukturnya, kode-kode genetik serta proses transkripsi dan translasi. Suatu penelitian yang merupakan revolusi dalam biologi modern adalah setelah munculnya metode teknologi DNA rekombinan atau rekayasa genetika yang inti prosesnya adalah kloning gen yang merupakan suatu prosedur untuk memperoleh replika yang dapat sama dari sel atau organisme tunggal.
Kloning pada umumnya adalah perbanyakan DNA rekombinan, yaitu DNA yang sudah direkayasa dengan teknik penggabungan/penyisipan gen dari satu organisme satu ke dalam genom organisme lain (transplantasi gen/teknologi plasmid). Contohnya: kloning gen penghasil insulin dari kelenjar pankreas manusia, disisipkan ke dalam plasmid bakteri Escherichia coli sehingga bakteri tersebut dapat mengekspresikan gen tersebut dan menghasilkan insulin manusia dalam jumlah banyak, mengingat bakteri sangat cepat membelah diri dan bertambah banyak dengan cepat.
Ada beberapa langkah dasar dalam kloning gen, yaitu:
1. Suatu fragmen DNA yang mengandung gen yang akan diklon diinsersikan pada molekul DNA sirkular yang disebut vektor untuk menghasilkan chimera atau molekul DNA rekombinan.
2. Vektor bertindak sebagai wahana yang membawa gen masuk ke dalam sel tuan rumah (host) yang biasanya berupa bakteri, walaupun sel-sel jenis lain dapat digunakan.
3. Di dalam sel host, vektor mengadakan replikasi menghasilkan banyak kopi atau turunan yang identik baik vektornya sendiri maupun gen yang dibawanya.
4. Ketika sel host membelah, kopi molekul DNA rekombinan diwariskan pada progeny dan terjadi replikasi vektor selanjutnya.
5. Setelah terjadi sejumlah besar pembelahan sel, maka dihasilkan koloni atau klon sel host yang identik.
Tiap-tiap sel dalam klon mengandung satu kopi atau lebih molekul DNA rekombinan dan dapat dikatakan bahwa gen yang dibawa oleh molekul rekombinan telah berhasil diklon.

Wahana dan ketrampilan dasar untuk Kloning Gen
Komponen penting dalam eksprerimen kloning gen adalah wahana yang membawa gen masuk ke dalam sel host dan bertanggung jawab atas replikasinya. Untuk dapat bertindak sebagai wahana suatu molekul DNA harus mampu memasuki sel tuan rumah serta dapat mengadakan replikasi untuk menghasilkan kopi dalam jumlah besar.
Dua jenis molekul DNA alamiah yang memenuhi persyaratan tersebut adalah:
1. Plasmid, merupakan molekul DNA sirkuler yang terdapat dalam bakteri dan berbagai organisme lain. Plasmid dapat melakukan replikasi dengan tidak tergantung pada kromosom sel tuan rumah.
2. Kromosom virus, terutama bakteriofag, yaitu virus yang harus menginfeksi bakteri pada waktu infeksi molekul DNA bakteriofag diinfeksikan ke dalam sel tuan rumah dan kemudian DNA mengalami replikasi.
Molekul DNA plasmid dan bacteriofag mempunyai sifat-sifat dasar yang ditentukan sebagai wahana kloning, namun sifat ini tidak berguna tanpa adanya teknik-teknik eksperimen untuk manipulasi molekul DNA di dalam laboratorium. Ketrampilan dasar untuk melalukan kloning secara sederhana adalah:
1. Preparasi sampel DNA murni
2. Pemotongan DNA murni
3. Analisis ukuran fragmen DNA
4. Penggolongan molekul DNA
5. Memasukkan molekul DNA ke dalam sel tuan rumah
6. Identifikasi sel yang mengandung molekul DNA rekombinan

Adapun teknik-teknik kloning gen yang umum dilakukan adalah sebagai berikut:

Kloning Gen Eukariotik dalam Plasmid Bakteri
Pengekspresian gen eukariot di dalam ruang lingkup gen prokariot sangatlah sulit, karena kedua gen tersebut susunannya berbeda, selain itu adanya daerah bukan pengkode (intron) di dalam DNA eukariotik yang cukup panjang dapat mencegah ekspresi gen yang benar oleh sel prokariot. Untuk mengatasi hal tersebut, maka ketika enzim restriksi memotong DNA eukariot, di bagian hulu fragmen DNA tersebut harus disisipi oleh promoter prokariot. Pada saat gen eukariot disisipkan, bakteri dapat mengenali promoter, dan langsung mengekspresikan gen tersebut. Untuk hal yang kedua, bisa diatasi dengan merubah mRNA menjadi DNA komplementer (complementary DNA/cDNA) menggunakan enzim transcriptase balik (reverse transcriptase), yaitu enzim yang diisolasi dari retrovirus. mRNA bisa digunakan karena pada mRNA, intronnya telah dikeluarkan pada saat proses splicing.
Setelah DNA ditransplantasi menghasilkan DNA rekombinan, maka DNA tersebut harus dimasukkan kembali ke dalam inang supaya dapat berekspresi. Pemasukan DNA rekombinan bisa dengan cara elektroporasi (memberikan kejutan listrik untuk membuka membran sel) atau dengan cara penyuntikan (mikroinjeksi) atau dengan cara transformasi, yaitu penyerapan DNA rekombinan dari larutan.

Kloning DNA secara in vitro
Pengklonan DNA di dalam sel tetap merupakan metode terbaik untuk mempersiapkan gen tertentu dalam jumlah banyak. Namun ketika sumber DNA sangat sedikit dan tidak murni, maka dapat digunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction), sehingga setiap fragmen DNA dapat disalin beberapa kali dengan cepat dan diperkuat (amplifikasi) tanpa menggunakan sel. Adapun yang dibutuhkan dalam PCR adalah enzim DNA polymerase yang tahan panas, potongan DNA untai tunggal sebagai primer dan pasokan nukleotida.
Sejak tahun 1985, PCR telah banyak digunakan dalam penelitian biologis kedokteran, sosial dan hukum. Contohnya: PCR digunakan untuk memperkuat DNA gajah purba (Mammoth) yang telah berusia 40.000 tahun, PCR digunakan untuk mendeteksi pelaku kejahatan dari sampel DNA air mani, darah atau jaringan tubuh pelaku lainnya atau PCR ini digunakan untuk mendeteksi patogen yang sulit terdeteksi seperti DNA virus HIV.


Readmore »»

DNA Rekombinan

Secara singkat DNA rekombinan dapat didefinisikan sebagai teknik yang dapat diaplikasikan untuk menggabungkan molekul DNA. Terjadinya proses rekombinasi secara alami dapat terjadi sehingga gen dapat berpindah dari satu organisme ke organisme lain yang keduanya memiliki hubungan kekerabatan. Dengan kemajuan teknologi molekuler, perpindahan gen dapat terjadi antar organisme yang sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan. Misalnya gen manusia dipindahkan ke dalam bakteri. Perpindahan tersebut mengakibatkan terbentuknya molekul DNA yang berasal dari sumber yang berbeda dapat digabungkan menjadi apa yang disebut DNA rekombinan.

Beberapa teknik yang dipelajari dalam DNA rekombinan adalah:
1. Teknik untuk mengisolasi DNA
2. Teknik untuk memotong DNA
3. Teknik untuk menggabungkan atau menyambung DNA
4. Teknik untuk memasukkan DNA ke sel hidup
Biasanya DNA rekombinan merupakan gabungan antara DNA vektor yang merupakan molekul DNA yang dapat mereplikasi dirinya sendiri dan DNA asing yang biasanya berupa gen dari suatu makhluk hidup. Vektor tersebut berfungsi sebagai pembawa DNA asing yang berasal dari satu organisme untuk dipindahkan ke dalam organisme lain.
Kumpulan teknik-teknik tersebut telah dikembangkan oleh para ilmuwan sehingga memungkinkan bagi kita untuk mengisolasi DNA dari berbagai organisme, menggabungkan DNA yang berasal dari organisme yang berbeda sehingga terbentuk kombinasi DNA, memasukkan DNA rekombinan ke dalam sel organisme prokariot maupun eukariot hingga DNA rekombinan tersebut dapat bereplikasi dan bahkan dapat diekspresikan di dalam organisme tersebut sehingga dapat menghasilkan protein. Misalnya: gen penyandi insulin (hormon yang digunakan bagi penderita penyakit diabetes) yang disisipkan ke vektor dan kemudian vektor tersebut dimasukkan ke dalam E. coli. Sel ini kemudian dapat menghasilkan hormon insulin yang secara alami sel tersebut tidak mampu menghasilkannya.
Untuk membuat DNA rekombinan, setidaknya digunakan dua macam enzim yaitu enzim endonuclease yang berfungsi sebagai pemotong molekul DNA. Karena fungsinya, enzim ini sering disebut sebagai enzim pemotong (restriction enzyme). Enzim lainnya adalah enzim ligase yang berfungsi menggabungkan molekul DNA yang sudah dipotong ke molekul DNA lain.

Proses Pembuatan DNA Rekombinan
Jika kita memiliki gen X sepanjang 2000 pasang basa yang diisolasi dari bakteri Zymobacter palmae. Kita ingin memperbanyak gen tersebut dengan memanfaatkan sel bakteri E. coli sebagai organisme yang menggandakan jumlah gen tersebut. Jadi, kita ingin membuat DNA rekombinan yang merupakan gabungan molekul DNA vektor (misalnya plasmid) dan gen X tersebut.
Molekul DNA plasmid yang berbentuk bulat dan berukuran 3000 pasang basa dipotong dengan menggunakan enzim endonuclease yang sama dengan enzim endonuclease yang digunakan untuk memotong gen X tersebut. Kedua jenis potongan tersebut kemudian digabungkan oleh enzim ligase. Penggabungan kedua macam molekul dapat terjadi secara acak, sehingga sedikitnya ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu:
1. Molekul DNA plasmid menggabung kembali seperti bentuk semula (bulat) dan tidak membawa gen X. Pada kasus ini, ukuran molekul DNA tetap 3000 pasang basa.
2. Molekul DNA plasmid bergabung dengan gen X. Ini merupakan DNA rekombinan DNA rekombinan yang dikehendaki dengan ukuran 3 kb + 2 kb = 5 kb.
Teknologi DNA rekombinan telah memberikan banyak manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan maupun bagi kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa jenis obat-obatan, vaksin, bahan pangan, bahan pakaian dan lainnya diproduksi dengan memanfaatkan teknologi DNA rekombinan.



Readmore »»

Aplikasi Bioteknologi

Sejak berabad-abad bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme telah berlangsung secara tradisional, seperti pada proses pembuatan anggur, bir, keju, sake dan lain-lain. Proses tradisional ini hanya menggunakan dan mengandalkan proses genetik alami dari mikroba. Di jaman modern, bioteknologi lebih banyak menggunakan sumber genetik (DNA) organisme yang telah dimanipulasi dan disebut dengan rekayasa genetika. Hal tersebut telah memungkinkan para ilmuwan untuk memodifikasi gen-gen spesifik dan memindahkannya di antara organisme yang berbeda. Namun demikian, dengan meluasnya aplikasi rekayasa genetika di segala bidang, perlu juga diperhatikan masalah-masalah sosial dan etika yang dapat timbul.

Aplikasi bioteknologi secara tradisional
Cakupan bioteknologi belum mengenal adanya istilah genetika dan kloning. Bioteknologi berupa pemanfaatan mikroba dalam fermentasi, seleksi atau persilangan tradisional di bidang pertanian dan peternakan untuk mencari bibit unggul. Aplikasi dalam bioteknologi tradisional adalah:
Seleksi pemilihan sifat yang sesuai dengan keinginan manusia
Hibridisasi perkawinan silang antar dua individu dengan sifat-sifat yang diinginkan manusia dengan tujuan memperbaiki keturunan. Contoh hibridisasi di bidang peternakan, antara lain:
• Silang murni (purebreeding), yaitu jantan dan betina yang disilangkan sesama bangsanya.
• Silang dalam (inbreeding), yaitu jantan dan betina yang disilangkan masih memiliki hubungan keluarga.
• Silang luar (crossbreeding), yaitu jantan dan betina yang disilangkan berbeda bangsa namun memiliki darah murni dan tujuan dari persilangan ini adalah membentuk ras baru.
• Upgrading, yaitu jantan yang telah diketahui kualitasnya disilangkan dengan betina setempat.


Adapun bidang pertanian, tanaman hasil persilangan diantaranya: padi Bogowonto, Mahakam, Peta Baru (PB) dan Cisadane. Di Indonesia, perkembangan bioteknologi pertanian masih bersandar pada bioteknologi tingkat tua yaitu pemanfaatan pada tingkat seluler bukan molekuler. Contohnya adalah pemanfaatan industri kultur jaringan yang berkembang baik dalam industri kehutanan dengan kebutuhan penyediaan bibit tanaman untuk reboisasi maupun untuk estetika seperti bunga-bunga untuk pajangan seperti anggrek. Kultur jaringan adalah pembuatan bibit dan perbanyakannya menggunakan variasi komposi media. Sumber organ tumbuhan dapat memanfaatkan biji, daun maupun tunas. Selain itu, bioteknologi secara sederhana juga dapat diaplikasikan dalam teknologi pengolahan pangan meskipun belum tereksploitasi secara optimal. Misalnya komposisi kecap yang membedakan rasa, warna dan aroma sangat dipengaruhi oleh kedelai sebagai bahan baku dan mikroba yang digunakan dalam proses pembuatan kecap. Selain itu, kebutuhan yang besar adalah enzim dan protein yang banyak digunakan dalam proses pembuatan produk pangan seperti enzim protease, enzim lipase, dsb. Pemanfaatan di bidang kosmetik dan kebersihan juga mulai terasa dampaknya dengan munculnya pasta gigi yang mengurangi detergen dengan mengganti protease dan shampoo dengan mengganti komposisi protein collagen.
Aplikasi Bioteknologi secara modern
Bioteknologi yang telah memanfaatkan pengetahuan genetika dan kloning atau secara umum disebut rekayasa genetika. Misalnya:
1. Mutasi buatan : mutasi yang ditujukan untuk merubah susunan gen, sehingga sifat yang diturunkan pun berubah. Mutasi buatan ini umumnya menggunakan radiasi. Contohnya: Padi var. Atomita I dan II, kedelai var. Muna.
2. Transplantasi gen : penyisipan gen organisme satu ke genom organisme lain dengan tujuan untuk produksi suatu senyawa dalam skala besar dan cepat untuk terapi medis atau untuk mengatasi masalah lingkungan.
3. Hibridoma : teknik pencangkokan sel dengan materi genetik dari sel yang lain. Umumnya digunakan untuk terapi medis kekebalan tubuh (immunoterapi) dan kanker. Contohnya pemasukan genom penghasil antibodi dari sel limfosit ke dalam sel kanker yang sangat cepat berproliferasi, sehingga sel kanker tersebut dapat menghasilkan antibodi dan dapat melawan sel kanker lainnya atau zat asing yang masuk ke dalam tubuh dengan cepat yang secara normal tidak bisa diatasi oleh antibodi dari sel limfosit saja.
4. Kloning : teknik perbanyakan sel, jaringan atau organisme secara aseksual, biasa melibatkan dua induk atau satu induk.
5. Transfer Embrio : teknik yang dapat diaplikasikan untuk mempercepat produksi ternak sapi potong baik secara kuantitas maupun kualitas.


Readmore »»

Bioteknologi?

Bioteknologi secara umum berarti meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau merekayasa gen pada organisme tersebut. Perubahan sifat biologis melalui rekayasa genetika tersebut mengakibatkan lahirnya organisme baru produk bioteknologi dengan sifat-sifat yang menguntungkan bagi manusia.
Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup maupun produk dari makhluk hidup dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lainnya, seperti biokimia, komputer, biologi molekuler, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa.

Ciri utama bioteknologi adalah:
1. Adanya agen biologi berupa mikroorganisme, tumbuhan atau hewan
2. Adanya pendayagunaan secara teknologi dan industry
3. Produk yang dihasilkan adalah hasil ekstraksi dan pemurnian



Gambar 1. Kegunaan bioteknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia

Bioteknologi secara sederhana sudah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sebagai contoh, di bidang teknologi pangan adalah pembuatan bir, roti, maupun keju yang sudah dikenal sejak abad ke 19, pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan reproduksi hewan. Di bidang medis, penerapan bioteknologi di masa lalu dibuktikan antara lain dengan penemuan vaksin, antibiotic dan insulin walaupun masih dalam jumlah yang terbatas akibat proses fermentasi yang tidak sempurna. Perubahan signifikan terjadi setelah penemuan bioreactor oleh Louis Pasteur. Dengan alat ini, produksi antiobiotik maupun vaksin dapat dilakukan secara massal.
Pada masa kini, bioteknologi berkembang sangat pesat, terutama di Negara-negara maju. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya berbagai macam teknologi semisal rekayasa genetika, kultur jaringan, rekombinan DNA, pengembangbiakan sel induk, kloning dan lain-lain. Teknologi ini memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetic maupun kronis yang belum dapat disembuhkan, seperti kanker ataupun AIDS. Penelitian di bidang pengembangan sel induk juga memungkinkan para penderita stroke ataupun penyakit lain yang mengakibatkan kehilangan atau kerusakan pada jaringan tubuh dapat sembuh seperti sedia kala. Di bidang pangan, dengan menggunakan teknologi rekayasa genetika, kultur jaringan dan rekombinan DNA, dapat dihasilkan tanaman dengan sifat dan produk unggul karena mengandung zat gizi yang lebih jika dibandingkan tanaman biasa, serta jauh lebih tahan terhadap hama maupun tekanan lingkungan. Penerapan bioteknologi di masa ini juga dapat dijumpai pada pelestarian lingkungan hidup dari polusi. Sebagai contoh, pada penguraian minyak bumi yang tertumpah ke laut oleh bakteri dan penguraian zat-zat yang bersifat toksik di sungai atau laut dengan menggunakan bakteri jenis baru.
Perkembangan bioteknologi secara singkat dapat dibagi ke dalam beberapa generasi yaitu:
1. Era bioteknologi generasi pertama = bioteknologi sederhana
Penggunaan mikroba masih secara tradisional dalam produksi makanan dan tanaman serta pengawetan makanan.
Contoh: pembuatan tempe, tape, cuka dan lain-lain
2. Era bioteknologi generasi kedua
Proses berlangsung dalam keadaan tidak steril
Contoh:
a. Produksi bahan kimia: aseton dan asam sitrat
b. Pengolahan air limbah
c. Pengolahan kompos
3. Era bioteknologi generasi ketiga
Proses dalam kondisi steril
Contoh: produksi antibiotik dan hormon
4. Era bioteknologi generasi baru = bioteknologi baru
Contoh: produksi insulin, interferon, antibodi monoklonal
Kemajuan di bidang bioteknologi tidak lepas dari berbagai kontroversi yang melingkupi perkembangan teknologinya. Sebagai contoh, teknologi kloning dan rekayasa genetika terhadap tanaman pangan mendapat kecaman dari berbagai macam golongan.

Readmore »»